Teknologi, Keamanan, dan Pengawasan: Rangkuman Perkembangan Terkini

8

Beberapa minggu terakhir telah terjadi banyak perkembangan yang bersinggungan dengan kecerdasan buatan, penegakan hukum, dan keamanan internasional. Mulai dari penerapan teknologi canggih hingga tuduhan penyalahgunaan dan penyalahgunaan yang meresahkan, keadaan berubah dengan cepat. Berikut rincian peristiwa-peristiwa penting.

Penegakan Hukum Berbasis AI Meningkat

Kecerdasan buatan semakin terintegrasi ke dalam operasi kepolisian dan pengawasan, seringkali dengan hasil yang memprihatinkan. Sebuah laporan baru-baru ini mengungkap bagaimana AI dapat menyebabkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dikerahkan tanpa pelatihan yang tepat, sehingga menyoroti risiko mengandalkan algoritma yang tidak terverifikasi. Selain itu, alat pengawasan Palantir yang menargetkan imigran telah terungkap, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang pelanggaran privasi dan militerisasi penegakan imigrasi.

Penggunaan teknologi pengenalan wajah oleh ICE terus berkembang, dengan Mobile Fortify digunakan untuk memindai wajah banyak orang, termasuk warga negara AS. Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) telah menjalin kontrak dengan perusahaan yang menyediakan kemampuan pengawasan yang berpotensi invasif.

Keamanan Global dan Teknologi dalam Konflik

Ketegangan geopolitik juga terjadi di bidang teknologi. Starlink milik Elon Musk dilaporkan digunakan untuk memutus pasukan Rusia, menunjukkan potensi infrastruktur ruang angkasa komersial untuk menjadi alat dalam konflik militer. Dalam perkembangan terkait, platform X milik Musk tampaknya melanggar sanksi AS dengan menjual akun premium kepada para pemimpin Iran, meskipun secara terbuka mendukung pengunjuk rasa Iran.

Kekhawatiran juga meluas ke Piala Dunia 2026 mendatang di Meksiko, di mana robot anjing dijadwalkan untuk berpatroli di tempat-tempat, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang normalisasi penegakan hukum robot di ruang publik.

Kejahatan Dunia Maya dan Pelanggaran Data Terus Berlanjut

Keamanan siber masih menjadi tantangan besar. Seorang pelapor menuduh bahwa Jeffrey Epstein memiliki “peretas pribadi”, menambah lapisan intrik pada kasus yang sudah rumit ini. Kejahatan terkait mata uang kripto masih terus terjadi, dengan pencurian senilai $40 juta yang melibatkan tersangka yang tidak terduga. Departemen Kehakiman (DOJ) mengakui bahwa DOGE mungkin telah menyalahgunakan data Jaminan Sosial, sehingga semakin mengikis kepercayaan terhadap praktik penanganan data pemerintah.

Disinformasi dan Ancaman yang Ditimbulkan oleh AI

Munculnya disinformasi yang didukung AI adalah masalah mendesak lainnya. Kemajuan dalam kecerdasan buatan semakin mempermudah penyebaran informasi palsu dalam skala besar, dan hampir tidak ada cara yang dapat diandalkan untuk mendeteksinya. Hal ini menimbulkan ancaman langsung terhadap proses demokrasi dan kepercayaan publik.

Akuntabilitas Perusahaan dan Resistensi Pekerja

Akuntabilitas perusahaan masih menjadi medan pertempuran utama. Lebih dari 800 pekerja Google telah mendesak perusahaan untuk membatalkan kontrak dengan ICE dan CBP, menyusul insiden di mana agen federal menembak dan membunuh warga AS. Meta berencana menambahkan pengenalan wajah ke kacamata pintarnya, meskipun ada masalah privasi, sementara Microsoft mengaku menyerahkan kunci enkripsi Bitlocker kepada penegak hukum.

Kekhawatiran Internasional

Badan-badan keamanan Eropa berada dalam keadaan gelisah menjelang Olimpiade Milano Cortina, karena masuknya personel keamanan dari berbagai negara, termasuk ICE dan pasukan Qatar. Hal ini menyoroti meningkatnya koordinasi pengawasan internasional dan potensi penjangkauan yang berlebihan.

Tren ini menunjukkan pola yang jelas: AI dan teknologi pengawasan canggih semakin sering diterapkan, seringkali dengan pengawasan yang terbatas dan implikasi etika yang signifikan. Konvergensi faktor-faktor ini menimbulkan tantangan penting terhadap kebebasan sipil, keamanan nasional, dan integritas lembaga-lembaga demokrasi.