Bagaimana Kapitalisme Menjadi Sistem Ekonomi Global yang Dominan

8

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dunia bergantung pada kepemilikan swasta dan kekuatan pasar. Ini adalah kapitalisme. Dikenal juga sebagai sistem pasar bebas atau sistem perusahaan bebas, sistem ini mendefinisikan lanskap ekonomi di mana individu—bukan negara—memiliki sebagian besar alat produksi. Pendapatan dan output didistribusikan melalui tangan pasar yang tidak terlihat dan bukan melalui perencanaan terpusat.

Peralihan dari merkantilisme tidak terjadi secara tiba-tiba. Butuh waktu berabad-abad untuk menjadi dewasa. Reformasi memainkan peran yang tenang namun berat di sini. Dengan mensucikan kerja keras dan berhemat, hal ini menciptakan lahan budaya di mana menabung dan menginvestasikan kembali merupakan hal yang masuk akal secara moral. Kemudian datanglah Revolusi Industri. Industri tekstil Inggris pada abad 16 hingga 18 menjadi mesinnya.

Sistem sebelumnya mempunyai pendekatan berbeda terhadap surplus. Ketika produksi melebihi konsumsi, kekayaan sering kali mengalir ke istana atau katedral. Ini adalah aset yang tidak produktif. Mereka tidak memperluas kapasitas. Kapitalisme mengubah perhitungan. Surplus diinvestasikan kembali ke dalam kapasitas produktif. Pabrik-pabrik tumbuh. Teknologi maju. Siklusnya semakin cepat.

Namun pasar tidak berada dalam ruang hampa. Mereka membutuhkan aturan. Negara-negara nasional yang kuat di era merkantilis menyediakan infrastruktur. Sistem moneter yang seragam. Kode hukum. Tanpa kondisi sosial ini, sistem perusahaan bebas tidak akan memiliki landasan yang stabil untuk bangkit.

Adam Smith mengkodifikasi ideologi ini dalam The Wealth of Nations (1776). Teorinya tentang pasar bebas diadopsi secara luas sepanjang abad ke-19. Sejak lama, gagasannya adalah bahwa lebih sedikit pemerintahan berarti lebih banyak efisiensi.

Keyakinan itu menemui jalan buntu pada abad ke-20. Depresi Hebat membuktikan bahwa ekonomi laissez-faire bisa mengalami kegagalan yang spektakuler. Sebagian besar negara menyesuaikan pendekatan mereka, memperkenalkan peraturan dan jaring pengaman untuk mencegah keruntuhan total.

Namun kapitalisme tidak mati. Itu berevolusi.

Jatuhnya sistem ekonomi komando yang dikelola negara di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet menyingkirkan saingan ideologis utamanya. Sementara itu, Tiongkok mengadopsi elemen prinsip pasar bebas dengan tetap mempertahankan kendali negara. Pada awal abad ke-21, tidak ada sistem lain yang bisa mengklaim dominasi global yang sama.

Hal ini bukannya tidak menjadi masalah. Itu tidak sempurna. Tapi itu tetap default. Pertanyaannya bukanlah apakah negara ini akan terus mendominasi. Begitulah cara kita mengelola ketegangan yang ditimbulkannya.